Pergerakan Harga DINAR EMAS Harian

Gerai Dinar Johor

Jam Kerja Menyesuaikan Pusat:
08.00 s.d. 16.00 WIB
Hari Kerja :
Senin s.d. Jum'at
(Kecuali hari libur nasional)

Alamat :
Skudai Johor Malaysia

Telp. : +60167199008

Email: akulagion@gmail.com

Grafik Harga DINAR EMAS Mingguan  Grafik Harga DINAR EMAS Bulanan  Grafik Harga DINAR EMAS Tahunan  Grafik Harga DINAR EMAS 10 Tahunan 
Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

Wednesday, December 14, 2011

Euro Jatuh, Emas Juga Jatuh …

Euro Jatuh, Emas Juga Jatuh …PDFPrintE-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 15 December 2011 07:59
Semalam harga emas internasional mengalami kejatuhan yang sangat significant – mirip dengan kejadian 2009, yaitu turun ke titik terendah setelah beberapa bulan sebelumnya mencapai titik tertinggi. Bedanya hanya pada penyebab naik turunnya harga, dan waktu terjadinya masing-masing titik ekstrim-nya. Naik turunnya harga di tahun 2008/2009 adalah factor krisis di Amerika sedangkan turunnya harga kali ini penyebab utamanya adalah krisis di Euro Zone.

Pola pengaruh Euro dan Dollar terhadap harga emas dunia ini dapat dilihat pada grafik dibawah.  Karena harga emas dunia dihitung dengan US Dollar maka harga emas memiliki hubungan terbalik – inverse relationship – terhadap US Dollar yang diwakili oleh US Dollar Index. Kita bisa lihat pada grafik dibawah, area abu-abu yang mewakili US Dolar Index melonjak sangat significant beberapa hari terakhir.

Kinerja Euro, US Dollar dan Emas
Kinerja Euro, US Dollar dan Emas
 

Grafik di atas juga menunjukkan bahwa Euro-pun memiliki hubungan terbalik dengan US Dollar sama dengan emas,  atau dengan kata lain Euro memiliki hubungan yang sejalan dengan harga emas dalam US Dollar.  Ketika nilai tukar Euro jatuh, harga emas-pun jatuh.

Pertanyaannya adalah apakah kejatuhan Euro yang membuat orang berbondong-bondong memindahkan dananya kedalam US Dollar ini akan berlangsung lama sehingga Euro dan emas sama-sama akan terus merosot ?. Kemungkinan itu tetap ada, setidaknya dua faktor dibawah yang akan menjadi penyebabnya.

·       Bila kondisi Euro Zone semakin memburuk dan tidak terselamatkan, maka pelarian ke safe haven sementara  US Dollar akan semakin meningkat. US Dollar menjadi semakin mahal dan berarti harga emas semakin turun.
·       Bila Euro Zone tidak mengalami pemburukan yang bersifat fundamental lebih lanjut –pun harga emas bisa tetap turun oleh panic selling seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kalau dua factor tersebut menyebabkan harga emas turun dalam waktu dekat, lantas apakah ada factor yang akan mendorongnya naik ?. Tentu juga ada, meskipun kemungkinan terjadinya agak bersifat jangka panjang.

Euro Zone adalah mitra dagang utama Amerika Serikat, oleh karenanya dalam menghitung kekuatan US Dollar  atau yang kemudian dicerminkan oleh US Dollar Index – bobot Euro adalah yang paling besar yaitu 57.6% disusul oleh Yen Jepang yang hanya 13.6 % dan mata uang negara-negara lain yang lebih kecil pengaruhnya.

Bila krisis di Euro Zone berkelanjutan, Amerika pasti kena juga getahnya antara lain melalui ekspor ke negara-negara mitra dagang utamanya yang akan menurun dan risiko yang membesar di pasar financial karena  saling keterkaitannya antara  pasar financial yang satu dengan yang lain. Jadi US Dollar hanya diuntungkan sementara oleh krisis Euro.

Lantas bagaimana kita seharusnya menyikapi anjlognya harga  emas ini ?, terutama bagi Anda yang baru mulai membeli emas atau Dinar justru pada saat harga tertinggi beberapa bulan terakhir ?.

Pertama yang perlu diingat adalah krisis Euro tidak bersifat unique, US Dollar-pun (dan berbagai mata uang kertas lainnya) berpeluang mengalami krisis yang sama – bahkan US Dollar juga sedang mengalaminya, hanya karena pembandingnya adalah Euro yang lebih buruk – US Dollar kelihatannya membaik. Bila wajah buruk US Dollar sudah tidak lagi tertutupi oleh keburukan Euro, Dollar-pun akan berkinerja seperti Euro. Karena Dollar memiliki inverse relationship dengan emas, saat itulah harga emas akan kembali pulih seperti puncaknya beberapa bulan lalu.

Kedua gonjang-ganjing harga emas dunia  yang di-trigger oleh fluktuasi daya beli US Dollar ini, seharusnya bisa menyadarkan kita semua – bahwa tidak ada investasi yang aman dari risiko. Itulah sebabnya, melalui tulisan seperti ini dan juga tulisan-tulisan sebelumnya, kami lebih menekankan kepahaman masyarakat dibandingkan dengan upaya untuk menjual emas atau Dinar itu sendiri, ilmu sebelum amal.

Ketiga, krisis ini mengingatkan kita pentingnya membangun kekuatan ekonomi sektor riil minimal untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan. Tidak mudah memang, tetapi investasi yang lain-pun toh juga terbukti tidak mudah, jadi tetap harus terus dicoba dan diupayakan. Wa Allahu A’lam.

Friday, February 18, 2011

6 Irreversible Trends : Harga Emas di Era Doomy Gloomy-nya US$


Oleh Muhaimin Iqbal 
ditulis pada Senin, 10 January 2011 08:52
Bagi para pembaca yang sempat lemas dengan turunnya harga emas dan Dinar secara drastis sepanjang pekan lalu, tulisan ini barangkali bisa menjadi pengobatnya disamping tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Bijak berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas...”. Tulisan ini saya sarikan dari ceramahnya Nick Barisheff - CEO and president of Bullion Management Group Inc.- pada acara seminar Investment Outlook 2011 di Montreal – Canada Jum’at pekan lalu. Menurut Nick ini ada setidaknya enam trend yang akan mendorong harga emas ke atas tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya.

Trend-trend yang oleh Nick dkategorikan sebagai Irreversible – yang tidak berubah atau tidak berbalik arah –  paling tidak sejauh mata dia memandang ini,  adalah sebagai berikut :

1) Central Bank Buying
 Pendorong harga emas tahun 2010 antara lain adalah membengkaknya belanja emas yang dilakukan oleh beberapa bank central besar seperti Rusia, China dan India. Cadangan emas Rusia di kwartal ke 3 tahun 2010 saja naik 7 % menjadi 756 ton. China mengimpor hampir 210 ton emas di bulan Desember  2010, sedangkan India pembelian emas oleh bank central-nya plus pembelian swasta  di duga mencapai 750 ton sepanjang tahun lalu.

Trend ini akan terus ada di tahun 2011 dan bahkan tahun-tahun sesudahnya karena untuk membuat cadangan emas Rusia dan China mendekati rata-rata negeri barat saja, Rusia membutuhkan tambahan cadangan sekitar 1,000 ton sedangkan China masih membutuhkan tambahan sekitar  3,000 ton lagi. Demand emas akan terus tinggi , sementara supply relatif tidak banyak perubahan.

2) Movement Away From US$
 Tahun 2009, China , Rusia dan Perancis diduga secara diam-diam telah mulai meninggalkan US$ untuk perdagangan minyaknya dengan negeri-negeri Arab.  Tahun 2010 lalu, secara resmi Rusia dan China mengakui bahwa mereka tidak lagi menggunakan US$ untuk perdagangan bilateral antar kedua negara – tidak terbatas pada perdagangan minyak saja.

Ini memberikan sinyal kuat ke seluruh dunia bahwa untuk perdagangan antar negara, penggunaan US$ tidak lagi menjadi suatu keharusan. Bila International Demand terhadap US$ menurun – sementara US$ supply terus digenjot melalui Quantitative Easing – maka jelas harga barang-barang dalam US$ akan melonjak karena daya beli US$ yang turun.

3) China
 Di China bukan hanya pemerintah melalui bank central-mya yang getol menaikkan cadangan emasnya. Rakyatnya-pun di dorong dan dipermudah oleh pemerintahnya untuk membeli emas. Dengan penduduk yang mencapai lebih dari 1.3 milyar jiwa dan dengan tingkat penghasilan yang terus meningkat, maka demand emas dari China akan terus mengkatrol harga emas ke atas.

4) The Aging Population in US
 “Baby boomers” yaitu ledakan penduduk yang lahir di Amerika paska Perang Dunia II tahun 1946 s/d 1963 berangsur-angsur memasuki usia pensiun. Amerika sedang menghadapi meningkatnya jumlah penduduk yang pensiun ini. Sedangkan jumlah tenaga kerja paskababy boomers ini cenderung menciut jumlahnya. 

Artinya adalah akan semakin banyak jumlah orang pensiun – yang memerlukan dukungan dana pemerintah untuk mendanainya – sementara kontributor terhadap pendapatannnya dari pajak perorangan akan cenderung menurun karena jumlah pekerja yang semakin sedikit. Untuk membiayai para pensiunan yang lebih banyak ini pemerintah tidak ada cara lain kecuali ‘mencetak uang dari awang-awang’. Unfunded liability pemerintah yang terus membengkak dibarengi dengan pencetakan uang secara besar-besaran – pasti berdampak pada penurunan daya beli US$ yang terus menerus.

Menurut catatan Nick Barisheff ini, lima mata uang terbesar dunia termasuk US$ telah kehilangan 70%-80 % daya belinya terhadap emas selama 10 tahun terakhir. Emas sejatinya bukan terus naik harganya, tetapi mata uang yang dipakai membelinya-lah yang terus menyusut daya belinya.

5) Outsourcing
 Industri besar Amerika yang beberapa diantaranya sekarang masih menguasai dunia seperti komputer , notebook, handphone misalnya, mereka memilih memproduksi barangnya dengan cara meng-outsource-kan produksinya ke negara lain yang lebih murah cost of production-nya. Dampaknya negeri itu akan terus kehilangan banyak lapangan kerja.

Dampak berikutnya ketika orang tidak bekerja adalah mereka juga mengurangi konsumsi barang dan jasa. Jadi system outsourcing yang kini semakin popular di Amerika dan bukan hanya pada bidang manufacturing tetapi juga melanda bidang-bidang jasa sperti accounting services, administration, data entry, call centre dlsb. akan secara berlipat ganda berdampak pada GDP negeri itu.

Ketika GDP tidak lagi tumbuh atau bahkan turun, maka tumpukan hutang negeri itu akan semakin menggunung dan uangnya akan semakin berkurang daya belinya.

6) Peak Oil
 Yang dimaksud dengan Peak Oil adalah tingkat produksi minyak yang telah mencapai puncaknya dan akan menurun setelah itu. Peak Oil ini sudah terjadi di beberapa sentra produksi minyak dunia seperti  AS ,  Alaska dan North Sea. Sentra-sentra produksi lainnya akan segera mrenyusul.

Meksiko misalnya yang sekarang menjadi salah satu supplier terbesar minyak Amerika, beberapa tahun mendatang tidak akan lagi bisa mengekspor minyaknya. Sebaliknya mereka malah akan butuh impor minyak untuk menopang ekonominya sendiri. (Ini mirip Indonesia yang  sudah lebih dahulu menjadi net importer untuk minyak, meskipun untuk energi secara keseluruhan - termasuk didalamnya gas dan panas bumi - Indonesia masih net eksporter).

Walhasil secara keseluruhan dari 6 trend hasil  pengamatan dan analisa yang dilakukan oleh pelaku ekonomi barat sendiri seperti Nick Barisheff ini, kita bisa simpulkan bahwa masa depan Amerika dengan US$-nya sedang memasuki era doomy gloomy  - era masa depan suram menyerupai kiamat – sepertinya there is no tomorrow for US$ !. Menjelang ajalnya US$tetap ada dan tetap bisa untuk membeli barang dan jasa, tetapi apapun yang dibeli dengan US$ akan terus melonjak harganya – termasuk tentu saja emas. Wa Allahu A’lam.

Tuesday, February 8, 2011

Mengapa Uang Kertas Tidak Bisa Dipakai Untuk Perencanaan Financial Jangka Panjang ?

Oleh Muhaimin Iqbal (President GeraiDinar) 
Bagi para perencana finansial, inflasi adalah faktor ketidak pastian terbesar yang paling sulit diatasi. Betapa tidak, di negeri seperti Indonesia Inflasi terburuk (terbesar) dalam sepuluh tahun terakhir pernah mencapai 78% (tahun 1998). Lebih buruk lagi dalam lima puluh tahun terakhir, di Indonesia inflasi pernah benar-benar tidak terkendali dan mencapai angka 650% (tahun 1965). Inflasi yang berarti menurunnya daya beli uang, ternyata tidak hanya di alami oleh mata uang Rupiah, bahkan mata uang dunia yang selama ini dianggap perkasa yaitu Dollar Amerika, daya beli mata uang Dollar Amerika tersebut terhadap emas telah turun tinggal 29 % dalam 8 tahun terakhir, dalam 40 tahun terakhir daya beli Dollar Amerika terhadap emas tinggal 4 % saja !. 

Pada umumnya ketika kita merencanakan kebutuhan finansial Kita kedepan, apakah untuk keperluan ‘pensiun’ yang mungkin masih 20-30 tahun lagi, biaya pendidikan anak di perguruan tinggi yang masih belasan tahun lagi, ataupun kebutuhan biaya lain yang sifatnya jangka panjang, Kita memerlukan asumsi inflasi yang Kita akan hadapi – misalnya 10% per tahun. Asumsi kedua adalah hasil investasi dari dana Kita, targetnya tentu selalu diatas angka inflasi tersebut agar pertumbuhan dana Kita tidak kalah cepat dengan kenaikan inflasi. Disinilah problem Kita yaitu menghadapi dua ketidak pastian sekaligus, ketidak pastian inflasi dan ketidak pastian hasil investasi.

Contoh konkrit masalah ini saya ambilkan pengalaman seorang kawan dengan asuransi pendidikannya. Kawan ini eksekutif di perusahan telekomunikasi, beliau kecewa berat dengan asuransi pendidikan anaknya yang dibeli tahun 1988. Saat itu ketika anaknya baru lahir, dia membeli produk asuransi pendidikan senilai Rp 22.5 juta yang akan cair pada saat anaknya masuk perguruan tinggi. Saat itu nilai pertanggungan ini sangat besar dan pada tahun-tahun awalnya harus dibayar 20 % dari gaji bulanan dia. Tahun 2006 ketika anaknya masuk ITB dan perlu membayar Rp 45 juta uang pangkal, dana asuransi yang cair ternyata hanya cukup membayar separuh dari uang pangkal tersebut. Siapa yang salah ? perusahaan asuransi sudah membayar kewajibannya dengan benar, kawan saya juga telah konsisten selalu membayar preminya bertahun-tahun dengan benar. 

Yang salah tidak lain adalah nilai uang kita yang sangat tidak bisa diandalkan. Nilai pertanggungan Rp 22.5 juta tahun 1988 adalah setara dengan 227 Dinar.; ketika cair tahun 2006, nilai asuransi Rp 22.5 juta tersebut tinggal 32 Dinar !(kalau uang asuransi tersebut cair pada saat tulisan ini saya buat 1 Muharam 1429 – Rp 22.5 juta hanya setara dengan 19 Dinar !). Bayangkan kalau dari awal teman saya yang sholeh tersebut membeli produk asuransi pendidikan dengan nilai sebesar 227 Dinar*, maka saat cair tahun 2006 nilai 227 Dinar tersebut setara dengan Rp 161 juta (Kalau jumlah Dinar yang sama ditukar ke Rupiahnya saat ini menjadi Rp 261 juta). Uang ini bukan hanya cukup untuk membayar uang pangkal di ITB, tetapi juga masih cukup untuk membelikan anaknya mobil baru untuk kuliah dan membayar seluruh biaya pendidikan sampai anaknya tamat !. Inilah indahnya kalau produk keuangan jangka panjang dikelola dengan Dinar, mata uang baku yang nilainya tidak pernah terdevaluasi sepanjang jaman....!

Note:
*Sayangnya produk asuransi pendidikan belum ada yang dibuat dengan nilai Dinar, mudah-mudahan ada perusahaan asuransi jiwa syariah yang mau mengeluarkan produk berbasis Dinar ini - solanya di asuransi kesehatan sudah ada.

Monday, February 7, 2011

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Oleh Muhaimin Iqbal   
Sabtu, 22 November 2008 09:02

Pertanyaan ini sering sekali sampai ke saya dalam berbagai keempatan, Baik lewat email, kesempatan tanya jawab dalam ceramah atau bahkan banyak sekali pembeli Dinar sebelum mereka mulai membeli – mereka menanyakan dahulu masalah ini.


Ketiga-tiganya tentu memiliki kesamaan karena bahannya memang sama. Kesamaan tersebut terletak pada keunggulan investasi tiga bentuk emas ini yaitu semuanya memiliki nilai nyata (tangible), senilai benda fisiknya (intrinsic) dan dan nilai yang melekat/bawaan pada benda itu (innate). Ketiga keunggulan nilai ini tdak dimiliki oleh investasi bentuk lain seperti saham, surat berharga dan uang kertas.

Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi – kalau tidak ada campur tanganberbagai pihak dengan kepentingannya sendiri-sendiri otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.

Sebaliknya default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.

Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ? Disini saya berikan perbandingannya saja yang semoga objektif sehingga pembaca bisa memilih sendiri - Agar keputusan Anda tidak terpengaruh oleh pendapat saya – karena kalau pendapat saya tentu ke Dinar karena inilah yang saya masyarakatkan.
Kelebihan Dinar :
1. Memiliki sifat unit account ; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar – hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan di simpan yang 95 Dinar.
2. Sangat liquid untuk diperjual belikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab Zakat misalnya ditentukan dengan Dinar atau Dirham - umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai Jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31 %, maka setelah dipotong biaya 4 % tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjual belikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar :
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3% - 5 % dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

Kelebihan Emas Lantakan :
1. Tidak terkena PPN
2. Apabila yang kita beli dalam unit 1 kiloan – tidak terkena biaya cetak.
3. Nilai jual kembali tinggi.

Kelemahan Emas Lantakan :
1. Tidak fleksibel; kalau kita simpan emas 1 kg, kemudian kita butuhkan 10 gram untuk keperluan tunai – tidak mudah untuk dipotong. Artinya harus dijual dahulu yang 1 kg, digunakan sebagian tunai – sebagian dibelikan lagi dalam unit yang lebih kecil – maka akan ada kehilangan biaya penjualan/adiminstrasi yang beberapa kali.
2. Kalau yang kita simpan unit kecil seperti unit 1 gram, 5 gram, 10 gram – maka biaya cetaknya akan cukup tinggi.
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena adanya kendala ukuran. Pengguna yang butuh 100 gram, dia tidak akan tertarik membeli dari pengguna lain yang mempunyai kumpulan 10 gram-an. Pengguna yang akan menjual 100 gram tidak bisa menjual ke dua orang yang masing-masing butuh 50 gram dst.

Kelebihan Emas Perhiasan :
1. Selain untuk investasi, dapat digunakan untuk keperluan lain – dipakai sebagai perhiasan.

Kelemahan Perhaiasn :
1. Biaya produksi tinggi
2. Terkena PPN
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena kendala model dan ukuran.

Dari perbandingan-perbandingan tersebut, kita bisa memilih sendiri bentuk investasi emas yang mana yang paling tepat untuk kita. Wallahu A'lam.

Sunday, January 30, 2011

Investment Box : Dimana Penempatan Investasi Anda...?

Oleh Muhaimin Iqbal   
Minggu, 30 January 2011 09:46
Dengan begitu banyaknya pilihan investasi yang sering ditawarkan orang ke Anda, kadang tidak mudah bagi seorang professional sekalipun untuk menentukan pilihannya – apalagi bagi masyarakat awam. Pengelola dana-dana investasi pada umumnya mengembangkan trik-trik tersendiri yang dibangun berdasarkan skills dan pengalamannya. Di antara trik-trik tersebut, saya pilihkan yang paling mudah dan kemudian saya sederhanakan dalam tulisan ini – menjadi sedemikian mudah dan sederhana – karena mirip dengan permainan kelereng sewaktu kita kecil.

Waktu kecil dahulu, saya suka sekali bermain kelereng di kampung. Untuk menyimpan kelereng yang  jumlahnya banyak, perlu kotak tersendiri. Kelereng-kelereng yang paling sering saya gunakan untuk bermain – untuk gacoan misalnya – maka harus saya taruh di tempat paling atas di dalam kotak agar mudah saya temukan. Bila posisinya tidak diatas, maka perlu waktu untuk mengaduk-aduk seisi kotak untuk menemukan gacoan ini.

Nah mengelola dana investasi adalah mirip dengan mengelola kelereng dalam kotak tersebut. Sumbu-sumbu kotaknya adalah profitability (sumbu x) , liquidity (sumbu y) dansolvability (sumbu z). Setiap jenis investasi memiliki karakter tersebiri dalam hal profitability, liquidity dan solvability-nya. Ketiganya menentukan posisinya di dalam kotak investasi atau saya sebut saja investment box.

Untuk mudahnya masing-masing sumbu kita bagi dalam skala tiga saja yaitu rendah (1) , sedang (2) dan tinggi (3). Posisi investasi tertentu didalam investment box di tentukan oleh kordinat xyz-nya. Lantas apa yang menentukan mana yang rendah, sedang dan tinggi di masing-masing sumbu ?. Masing-masing orang bisa punya cara tersendiri. Kalau saya, yang saya gunakan saat ini adalah sebagai berikut :
 Investment Box
Untuk profitability, batasan yang saya gunakan adalah tingkat inflasi bahan pangan. Semua bentuk investasi harus bisa mengalahkan inflasi bahan pangan yang rata-ratanya 12 % selama lima tahun terakhir. Bila hasil investasi kurang dari inflasi bahan pangan, saya kategorikan hasil investasi rendah. Sampai dua kali inflasi bahan pangan (24%) saya kategorikan sedang, dan diatas itu baru tinggi.

Untuk liquidity adalah apabila dana dari investasi tersebut bisa kita cairkan kapan saja kita butuhkan – tanpa syarat, maka kategorinya tinggi (seperti kelereng yang berada di bagian kotak paling atas !), bila memerlukan proses dan waktu tertentu saya kategorikan sedang – dan bila pencairannya bersyarat – seperti ketika Anda mau mencairkan dana asuransi harus mencapai usia tertentu atau Anda harus meninggal dahulu misalnya – maka yang ini saya kategorikan rendah.

Untuk solvability adalah bandingannya apabila ada pinjaman untuk modal investasi Anda tersebut. Bandingannya adalah standar appresiasi harga emas yang berada di kisaran 20% per tahun selama lima tahun terakhir. Mengapa emas yang saya gunakan untuk standar ?, karena pinjaman berbasis emas dan dikembalikan dalam bentuk emas dengan jumlah yang sama inilah yang paling adil dan tidak mengandung riba. Bila investasi Anda mampu melebihi apresiasi harga emas, maka pertumbuhan asset Anda akan lebih dari cukup untuk mengembalikan pinjaman modal yang berupa emas – maka jenis investasi ini yang saya kategorikan memiliki solvability tinggi. Bila hanya pas-pasan di kisaran appresiasi emas saya kategorikan sedang dan bila tidak cukup untuk mengembalikan pinjaman modal yang berupa emas – saya kategorikan rendah dalam hal solvability karena makin lama hutang makin tidak terbayar.

Dengan kriteria dan asumsi tersebut diatas, maka marilah kita lihat posisi masing-masing contoh jenis investasi yang ada di pasaran atau di lingkungan kita sebagai berikut

Asuransi

Untuk Asuransi, posisinya saya taruh di koordinat (1,1,1) artinya profitability rendah (pada umumnya dibawah inflasi bahan pangan), liquidity rendah karena pencairannya pada umumnya bersyarat yaitu bila kita mencapai usia tertentu, bila kita meninggal dlsb. Solvabilityjuga saya kategorikan rendah karena hasil yang lebih rendah dari apresiasi emas – Anda tidak mungkin bisa mengembalikan pinjaman emas yang sama bila emas tersebut digunakan untuk membayar premi asuransi.

Reksadana

Reksadana saya taruh dalam kordinat (2,2,2) artinya profitability sedang – kadang bisa melampau inflasi bahan pangan, liquidity sedang karena perlu proses tertentu untuk mencairkannya, dan solvability juga sedang – kadang cukup untuk mengembalikan pinjaman emas – kadang juga tidak.

Manufaktur

Ini asumsinya Anda berinvestasi langsung di sektor produksi, posisinya saya taruh di koordinat (3,2,3). Dengan asumsi Anda menerjuni bidang yang memang Anda kuasai, maka umumnya manufaktur bisa dengan mudah memberikan tingkat keuntungan yang melebihi angka inflasi bahan pangan sekalipun, namun dari sisi liquidity saya kategorikan sedang karena tidak semua asset bisa dengan mudah dicairkan. Dari sisi solvability saya kategorikan tinggi karena asset usaha pada umumnya akan tumbuh lebih cepat dari appresiasi emas – karena dia adalah harta yang berputar.

Property

Untuk property saya taruh di koordinat (2,1,2) , dia lumayan profitable bila dapat lokasi yang baik, rendah dalam hal liquidity karena tidak mudah menjualnya bila kita memerlukan dana dari investasi property ini. Dan dari sisi solvability – kurang lebih tumbuh mirip dengan pertumbuhan harga emas.

Kebun

Untuk kebun saya taruh di koordinat (3,1,3) yaitu sangat profitable bila ditangani oleh yang memang memahami bidangnya, sebagai contoh satu batang benih pohon jinjing harganya hanya Rp 1,000. Setelah lima tahun pohon ini bila tumbuh baik harganya dengan mudah akan mencapai ratusan ribu. Liquidity-nya rendah karena hanya akan bisa dipanen setelah mencapai usia tertentu – lima tahun atau lebih. Tinggi dalam hal solvability karena didanai dengan pinjaman emas-pun insyaAllah akan lebih dari cukup untuk mengembalikannya.

Deposito

Deposito saya taruh di posisi koordinat (1,2,1) , rendah dari sisi profitability karena semua Deposito saat ini memberikan hasil yang lebih rendah dari inflasi bahan pangan. Sedang dalam hal liquidity karena perlu waktu tertentu untuk mencairkannya, dan rendah dalam artisolvability karena bila dana diposito Anda diukur dari pinjaman emas – maka pinjaman tersebut akan semakin berat untuk bisa dibayar dengan hasil deposito Anda.

Tabungan

Agak mirip dengan deposito, yaitu rendah dalam hal profitability dan rendah pula dari sisisolvability  tetapi tinggi dalam hal liquidity karena tabungan Anda bisa dicairkan kapan saja. Maka posisi tabungan berada di koordinat ( 1,3,1).

Emas/Dinar

Emas/Dinar berada di posisi koordinat (2,3,3), sedang dalam hal profitability, tinggi dalam halliquidity (bisa dijual kapan saja dan dimana saja ) dan tinggi pula dalam hal solvability. Pinjaman emas/Dinar selalu dapat dibayar dengan emas/Dinar pula setiap saat.

Perdagangan

Inilah primadonanya investasi langsung di koordinat (3, 3, 3), yaitu profitability-nya yang tinggi. Bila modal Anda Rp 1 juta untuk berdagang dengan turnover awalnya Rp 1 juta per minggu dan untung bersih yang Anda investasikan kembali adalah 1 %, maka pada akhir tahun uang Anda menjadi Rp 1,000,000 x (1+ 1%) ^ 52 (52 minggu dalam satu tahun !) =  Rp 1,677,689.Liquidity tinggi karena harta para pedagang yang terus berputar antara barang dagangan – uang – dagangan – dan uang kembali begitu seterusnya. Solvability juga tinggi karena dia akan terus mampu mengembalikan pinjaman modal yang dikukur dalam emas sekalipun. Mungkin inilah yang menjadikan perdagangan itu  9 dari 10 pintu rizki !.

Dengan mengetahui posisi ‘kelereng-kelereng’ investasi tersebut, InsyaAllah Anda akan lebih mudah menentukan komposisi investasi Anda. Memang tidak straight forward Anda dapat langsung jump ke perdagangan – karena untuk ini diperlukan skills yang perlu terus dikembangkan.

Sebaliknya juga demikian, asuransi yang berada di kordinat (1,1,1) tidak harus serta merta ditinggalkan, keberadaanya masih diperlukan untuk risk sharing atau taawun – tolong menolong – dalam menghadapi risiko. Yang diperlukan hanyalah memperjelas posisi, bahwa ketika Anda membeli asuransi adalah karena fungsinya untuk bisa ber-taawun ini – sedangkan untuk investasinya, banyak yang lebih menarik seperti alternatif-alternatif tersebut.

Contoh lain dari bentuk investasi yang kurang menarik tetapi sangat kita butuhkan adalah tabungan di bank; dari sisi profitability memang rendah – tetapi sampai saat ini tabungan atau rekening koran di bank masih menjadi alternatif pengelolaan cash kita yang paling efektif. Toh kita memang tidak perlu membawa atau menyimpan tunai di bawah bantal kan ?. Jadi manfaatkan bank untuk keperluan cash manajemen, pembayaran dan sejenisnya – tetapi untuk investasi gunakan pilihan lain yang lebih menarik.

Dengan memahami kelemahan dari masing-masing karakter investasi tersebut diatas, kita juga bisa melakukan perbaikan-perbaikannya. Misalnya ketika saya menanam pohon jinjing saya tahu bahwa saya tidak akan bisa mengharapkan hasilnya paling tidak sampai lima tahun mendatang, maka untuk mengongkosi operasi day-to-day dan upah bagi yang merawatnya sampai lima tahun yang akan datang – di kebon jinjing tersebut saya pelihara kambing dan jamur. Susu kambing dan jamur dapat menjadi income harian yang mengkompensasi investasi jinjing tersebut.

Lebih dari itu semua, Anda juga bisa tidak setuju dengan letak kelereng-kelereng tersebut. Ini toh ‘kelereng’ investasi Anda sendiri, Anda bebas menentukan tempatnya dimana saja – asal Anda memiliki kriteria atau pertimbangannya yang jelas.

Selamat bermain kelereng...:)